WAJAHBATAM.ID | Kontestasi Pilkada Gubernur dan wakil gubernur Provinsi Kepri sudah tidak terlalu menarik lagi sudah diotak-atik baik itu pasangan kandidat bahkan calon pemenangnya. Pasalnya dua pasangan kandidat sudah hampir pasti terjadi yakni Pasangan Soerya Respationo dan Iman Sutiawan yang akan diusung PDIP, Gerindra dan PKB; dan pasangan Ansar Ahmad dan Marlin Agustina yang diusung Golkar dan Nasdem. Hampir semua partai pengusungnya sudah mengeluarkan rekomendasi untuk masing-masing pasangan.

Jika dikalkulasi SR – Iman didukung 15 kursi, AA – MA didukung 14 kursi, maka tersisa 16 kursi lagi yakni PKS 6 kursi, Hanura 3 kursi, Demokrat 4 kursi, PAN 2 kursi dan PPP 1 kursi. Jumlah kursi itu sudah tinggal menyisahkan satu pasangan calon. PKS sudah mendeklarasikan akan mengusung kadernya sendiri yakni Suryani. Sementara partai tersisa masih diperebutkan oleh Isdianto dan Ismeth Abdullah.

PKS menjadi Kartu As
Konstalasi politik yang belum tersusun ini tentu menempatkan PKS sebagai kartu As yang akan menentukan pasangan kandidat bahkan arah pemenang pilkada yang akan dihelat pada Desember 2020 itu. Apakah Suryani menjadi calon wakil Ismeth Abdullah atau Isdiantro. Kabarnya Isdianto sudah mengantongi restu dari Partai Hanura meski rekomendasi belum keluar. Sementara Ismeth sedang intern mendapatkan rekomendasi Partai Demokrat. Jadi yang paling menarik saat ini hanyalah menganalisa bagaimana peluang dan posisi jika pasangan Ismeth Abdullah dan Suryani atau Isdianto dan Suryani?

Pertama coba dengan pasangan Ismeth Abdullah dan Suryani. Melihat jejak rekam, pengalaman dan kemampuan dalam memimpin seorang Ismeth Abdullah tentu tidak aka nada yang meragukan. Kepiawaian Ismeth dalam mendatangkan investor asing telah teruji semasa menjabat sebagai Ketua Otorita Batam maupun Gubernur Kepri. Ismeth memiliki jaringan yang sangat luas baik dalam negeri maupun luar negeri.

Bukti kinerja semasa Ismeth menjabat itu masih membekas di benak sebagian besar masyarakat Kepri. Belum lagi keberpihakan dalam kebijakan kepada kepentingan masyarakat yang selama ini masih dirasakan. Bagaimana lugasnya Ismeth berkomunikasi selama memimpin dirasakan hampir semua elemen masyarakat? Tidak ada yang merasa tidak memiliki pemimpin saat itu. Siapapun yang menyodorkan program kegiatan yang positif pasti didukung dibantunya, meski berasal dari kelompok yang tidak mendukungnya saat pilkada. Hal itu yang menghadirkan satu kerinduan akan kembalinya Ismeth untuk memimpin Kepri lagi pada kesempatan pilkada kali ini. Masyarakat merasakan ada sesuatu yang hilang setelah kepemimpinan era Ismeth tersebut.

Selain itu, Suryani akan diuntungkan jika berpasangan dengan Ismeth karena sudah pernah menjabat sebagai gubernur selama satu periode pada 2005-2010. Maka kalau pasangan ini memenangi pilkada Suryani bisa mencalon Gubernur dengan status incumbent. Dan selama menjabat, Suryani juga bisa langsung dikader sebagai calon penerus program dan kebijakan yang belum dituntaskan selama kepemimpinan mereka.

Jika memang Ismeth mampu mengantongi rekomendasi pencalonan gubernur dari Demokrat, kabarnya sejumlah pendana besar juga sudah menunggunya. Para pengusaha sesungguhnya merasakan jaman kepemimpinan Ismeth mereka merasakan iklim usaha yang sangat bagus. Termasuk banyaknya pengushaa baru yang tumbuh dengan baik. Mereka umumnya didukung dan dibantu Ismeth dalam berbagai hal yang ingin kembali membalas budi dengan membantu pendanaan Ismeth jika sudah positif bisa mencalonkan.

Kedua Isdianto dan Suryani. Isdianto adalah gubernur yang sudah setahun lebih menjabat sebagai pelaksana tugas karena Gubernur Kepri Nurdin Basirun tersandung hukum. Padahal Nurdin sudah divonis pengadilan tipikor bersalah pada tanggal 9 Mei 2020 lalu. Seharusnya tidak ada alasan apapun yang menghalangi Isdianto dilantik menjadi Gubernur Kepri defenitif setelah putusan itu. Nyatanya sudah 2 bulan berlalu belum ada tanda-tanda pelantikan itu.

Hal ini juga menunjukkan kalau posisi Isdianto lemah dalam lobi politik bahkan untuk memperjuangkan status dan haknya saja masih terkatung-katung. Kabarnya juga ada belasan kepala OPD yang tidak patuh dan belum pernah sekalipun menghadapnya secara khusus selama menjabat gubernur. Memang riak itu tidak nampak karena berbagai hal. Apalagi kondisi yang tertutup informasi pandemic covid19 yang hampir menyita perhatian semua pihak sejak bulan Maret 2020 lalu.

Meski popularitas isdianto di masyarakat sudah tinggi karena jabatan dia sebagai pelaksana tuga sgubernur, namun tidak mengakar pada untuk didukung kembali. Posisi Suryani sebagai wakil gubernur juga akan dibatasi ruang geraknya agar pada saat pilkada berikutnya tidak menjadi saingan sebagai calon gubernur. Bahkan pada saat berjalannya waktu, isdianto bisa memperkuat posisi pada partai politik dan tidak memerlukan Suryani sebagai wakilnya kembali. Tentu posisinya akan sangat berbeda ketika berpasangan dengan Ismeth.

Peluang 3 kandidat
Bukan mendahului takdir Tuhan dan kerja suksesi politik. Dengan 3 pasangan kandidat gubernur Kepri; Soerya – Iman, Ansar – Marlin, dan Ismeth – Suryani, posisi Ismeth – Suryani berpeluang memenangi pilkada. Tapi jika posisi ketiga Isdianto – Suryani maka yang berpeluang besar memenangkan pilkada pasangan Soerya – Iman. Mengapa? Tentu itu menjadi pertanyaan pembaca dan kita semua, penjelasannya akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya.

@Cak Ta’in Komari, SS

Bersambung…!

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *