BATAM, WAJAHBATAM.ID — Ada yang menarik dari silaturahmi jajaran pimpinan BP Batam bersama insan media di Kota Batam. Di tengah suasana yang biasanya identik dengan bahasa birokrasi dan wajah serius para pejabat, sosok Li Claudia Chandra justru tampil dengan warna yang berbeda.
Wakil Wali Kota Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam itu hadir dengan pembawaan yang santai, terbuka dan komunikatif. Di hadapan para pimpinan dan pejabat tinggi BP Batam serta insan pers, Li Claudia tidak memperlihatkan jarak sebagai seorang pejabat. Ia berbicara sebagai seorang pemimpin, tetapi sekaligus menghadirkan suasana seperti seorang ibu yang sedang berbincang dengan banyak orang di ruang keluarga. Sesekali diselingi humor dan candaan, sesi tanya jawab berlangsung cair. Tidak terlihat suasana kaku antara pejabat dan wartawan. Pertanyaan yang datang pun direspons dengan tenang, termasuk ketika menyentuh persoalan yang selama ini menjadi perhatian publik.
Di situlah karakter Li Claudia terlihat. Santai bukan berarti tidak tegas. Ramah bukan berarti tidak punya sikap. Justru di balik pembawaannya yang humanis, Li Claudia memperlihatkan konsistensi seorang pemimpin yang ingin pekerjaannya dinilai dari proses dan hasil. “Jangan Nilai Saya Terlalu Cepat”
Salah satu pesan yang terasa kuat dalam pertemuan tersebut adalah harapan Li Claudia agar masyarakat memberikan ruang dan waktu bagi kepemimpinan yang sedang berjalan. Ia tidak meminta masyarakat untuk berhenti mengkritik. Sebaliknya, kritik tetap diperlukan. Namun, kritik yang membangun dan masukan yang positif dinilai penting agar pemerintah dapat memperbaiki kekurangan dan menyelesaikan persoalan secara lebih baik.
Bagi Li Claudia, membangun Batam bukan pekerjaan sehari semalam.
Ada persoalan lama yang harus diselesaikan, ada sistem yang perlu dibenahi, ada koordinasi yang harus diperkuat, dan ada kebijakan yang membutuhkan proses sebelum hasilnya dapat dirasakan masyarakat.
“Berikan kami kesempatan untuk membuktikan kerja,” menjadi semangat yang terasa dari cara Li Claudia menyampaikan pandangannya. Pesannya sederhana: jangan menilai sebuah perjalanan hanya dari beberapa langkah pertama. Sebab perubahan, menurut logika pemerintahan, memang membutuhkan proses.
Diterpa Isu, Tetap Santai
Menjadi figur publik tentu tidak pernah lepas dari isu.
Apalagi ketika seseorang berada di posisi strategis seperti Li Claudia, yang saat ini menjalankan dua peran penting sebagai Wakil Wali Kota Batam dan Wakil Kepala BP Batam. Pemerintah Kota Batam sendiri mencatat pasangan Amsakar Achmad–Li Claudia sebagai pemimpin Batam periode 2025–2030.
Namun dalam pertemuan bersama media itu, Li Claudia justru terlihat tidak larut dalam berbagai isu yang beredar. Tidak defensif. Tidak emosional. Tidak pula menunjukkan kegelisahan berlebihan. Ia memilih duduk, berbicara, mendengar dan menjawab.
Sikap seperti itu memperlihatkan bahwa seorang pejabat publik tidak harus menjawab setiap isu dengan kemarahan. Kadang, jawaban terbaik terhadap sebuah isu adalah bekerja dan membiarkan hasil yang berbicara.
Di Tengah Para Petinggi BP Batam
Menariknya, pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana yang dihadiri jajaran penting BP Batam. Namun, Li Claudia tetap terlihat santai.
Tidak ada kesan bahwa forum tersebut harus berlangsung dengan protokoler yang kaku. Bahkan ketika sesi tanya jawab berlangsung, suasana kekeluargaan semakin terasa karena diselingi joke-joke ringan yang membuat ruangan lebih cair. Inilah sisi Li Claudia yang mungkin tidak selalu terlihat dalam pemberitaan formal.
Di balik jabatan dan berbagai tanggung jawab besar, ada sosok perempuan dan seorang ibu yang mampu membangun komunikasi dengan cara sederhana: mendengar, menjawab dan sesekali membuat orang tertawa.
Tetapi ketika berbicara mengenai pekerjaan, nada dan pesannya tetap jelas.
Batam harus bergerak. Masalah harus diselesaikan. Dan pekerjaan tidak boleh berhenti hanya karena kritik. Batam Sedang Bergerak
Sikap Li Claudia tersebut datang di tengah sejumlah informasi mengenai perkembangan Batam yang juga dipaparkan dalam forum silaturahmi media.
Salah satu laporan Wajah Batam sebelumnya mencatat bahwa realisasi investasi Batam pada Semester I 2026 mendekati Rp30 triliun berdasarkan data LKPM yang dipaparkan BP Batam. Angka tersebut disebut telah melampaui capaian investasi tahun 2024.
Di sisi lain, Deputi Bidang Pengelolaan Kawasan BP Batam Sudirman Said menyampaikan bahwa sekitar 100 persoalan lahan telah diselesaikan secara bertahap, sementara sejumlah perkara lainnya masih dalam proses hukum.
Sementara Staf Khusus Presiden sekaligus Tenaga Ahli Investasi BP Batam, Billy Mambrasar, dalam forum yang sama mendorong media lokal untuk ikut mengangkat capaian positif Batam secara lebih proporsional.
Namun bagi Li Claudia, berbagai capaian tersebut tentu bukan alasan untuk menutup mata terhadap kekurangan. Justru di situlah kritik dan masukan masyarakat tetap dibutuhkan. “Nilailah dari Semua Sudut” Barangkali inilah pesan paling menarik dari pertemuan tersebut.
Seorang pejabat publik memang tidak boleh hanya meminta masyarakat melihat keberhasilan. Tetapi masyarakat juga sebaiknya tidak hanya melihat kekurangan. Keduanya harus diletakkan dalam satu bingkai.
Li Claudia tampaknya memahami hal itu. Ia membuka ruang bagi kritik, tetapi berharap kritik tersebut disampaikan secara konstruktif. Ia menerima masukan, tetapi juga meminta kesempatan untuk membuktikan pekerjaan.
Karena membangun Batam bukan perkara mengubah keadaan dalam satu malam. Ada proses. Ada pekerjaan rumah. Ada persoalan lama.
Dan tentu saja ada ekspektasi masyarakat yang sangat besar.
Perempuan yang Memilih Bekerja
Di tengah semua dinamika itu, Li Claudia menunjukkan satu karakter yang cukup kuat: tetap bekerja meski banyak suara datang dari berbagai arah.
Sebagai perempuan dan seorang ibu, sisi keibuannya terlihat dari cara berkomunikasi yang hangat. Tetapi sisi itu tidak menghilangkan ketegasan ketika menyangkut pekerjaan dan tanggung jawab.
Pemerintah Kota Batam sendiri sebelumnya mencatat bagaimana Li Claudia meminta jajaran OPD meningkatkan pengawasan pembangunan dengan turun langsung ke lapangan agar program berjalan sesuai perencanaan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Artinya, kelembutan dalam komunikasi tidak otomatis berarti lunak dalam kepemimpinan.
Bisa tersenyum, tetapi tetap bisa menekan pedal gas pembangunan.
Dan mungkin itulah wajah Li Claudia yang ingin diperlihatkan kepada masyarakat Batam: bukan pemimpin yang meminta semua orang memujinya, melainkan pemimpin yang meminta kesempatan untuk bekerja.
Pada akhirnya, publik tetap memiliki hak untuk menilai.
Media tetap memiliki kewajiban untuk mengkritisi. Dan pemerintah tetap memiliki kewajiban untuk membuktikan. Karena seorang pemimpin tidak selamanya bisa menjawab kritik dengan kata-kata. Pada akhirnya, waktu dan hasil kerja yang akan menjadi hakim paling jujur. Li Claudia tampaknya memahami itu. Maka ia memilih tetap santai, tetap terbuka, tetap menerima kritik—dan terus bekerja. Sebab Batam tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai menjelaskan. Batam membutuhkan pemimpin yang berani membuktikan. (AI)
