Batam

Tempatkan Pada Tempatnya

Manusia adalah pelaku kezaliman. Dengan bermacam-macam jenis kezaliman.

Zalim itu adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, lawan katanya adalah keadilan. Siapapun yang menempatkan sesuatu di dunia ini tidak pada tempatnya, maka ia sudah zalim. Baik itu dalam urusan akidah, mu’amalah, akhlaqiah, jika dia menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, maka dia zalim.

Lalu, menempatkan sesuatu pada tempatnya itu, pakai cara apa?
Nahh…supaya tepat, pakailah cara Al Qur’an.

Bagaimana memakai cara Al Qur’an itu?
Baca dan pahami Al Qur’an, maka akan kita ketahui apakah cara kita sudah tepat atau belum.

Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling sempurna yang diciptakan Allah SWT di atas muka bumi ini. Beliau menggambarkan kehidupan yang paling tepat pada tempatnya. Ia digambarkan oleh Aisyah R.A, sebagai orang yang yang menjadi gambaran tentang Al Qur’an. Dan Rasulullah adalah orang yang paling sempurna dalam menempatkan bentuk kehidupannya. Ia adalah orang yang paling adil, jauh dari kezaliman

Lalu jika kita mencontoh Rasulullah, berarti kita mencontoh Qur’an yang diterapkan Rasulullah SAW.
Maka, pahamilah Al Qur’an…cari penjelasan dari Al Qur’an tentang segala bentuk kehidupan. Maka kita akan tahu ukuran tepat atau tidak tepatnya apapun yang terjadi yang kita temukan.

Al Qur’an itu berisi rumusan-rumusan, kaidah-kaidah, tapi rellisasinya, gambarannya ada pada akhlak Rasulullah SAW, sunnah-sunnah Rusululloh.
Itulah makanya Aisyah menyatakan bahwa akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an. Dengan kata lain…eksistensi Al Qur;an yaa….Rosulullah.

Sekali lagi, orang yang tidak menempatkan dirinya pada tempat yang sebenarnya sesuai dengan yang digariskan Al Quran, yang digariskan Rasulullah adalah orang yang zalim.

Kezaliman itu variatif. Ada yang 100%, 75%, 50%…5%, 1%…variatif. kitapun maasih memiliki unsur-unsur kezaliman. Karena kita banyak menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Karena kita yakin Allah akan kaasi kita surga. Tapi di sisi lain, keyakinan kita harus kita bangun juga dengan harapan.

“Ya Allah kami tau, kami tak pantas untuk mendapatkan syurgaMu. Tapi kami yakin…Kau memberikannya pada orang yang Engkau cintai ya Allah…masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang Engkau cintai…”

Untuk ukuran yang pantas dicintai…mungkin kita belum masuk daftar. Tapi kita berhak berharap cintaa-Nya, berharap rahmat dari-Nya…

“Apapun ceritanya ya Allah…tentang kekurangan kami, kezaliman kami, kelemahan iman kami, kami harus menempatkan diri kami pada tempat yang benar…kami berusaha ya Allah. Itulah kemampuan kami, mohon ya Allah…kasihani kami.”

Yahh…kita masih banyak melakukan kezaliman. Karena apa? Masih sering menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Cobalah ingat!!
Di sisi apa kita “menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya”?

Kalau kta korek-korek…banyaaaak!!!
Kita menonton TV sehari berapa lama? Main hp sehari berapa lama? Sholat berapa menit? Berapa lama zikir kita dibanding main hp misalnya?
Nahh ketahuan kan? Tidak pada tempatnya.
Ngobrol yang tidak bermanfaat dengan ngobrol yang bermanfaat…lebih banyak mana?
Kita tinggal menghitung sendiri.

Di luar juga begitu. Lebih banyak mana…kita berinteraksi dengan yang baik atau yang buruk?

Itu semua tentang “menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya”, kita yakin itu kesalahan, kekurangan, kekhilafan kita dan kita minta…”ya Allah….ampuni ketidaksadaran kami ya Allah, Kau Maha Pengasih…Maha Penyayang.”

Allah berbicara tentang kezaliman itu dari berbagai versi. Kezaliman itu bukan hanya milik penguasa….bukan!!! Pejabat-pejabatnya pun bisa zalim…lurah…camat…bupati…gubernur…pun bisa zalim…bahkan kita pun bisa saja zalim….karena menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya tadi.

Lalu kira-kira kalau ditanyakan, apa puncak kezaliman itu?
Allah menjawabnya di QS 18: 57)

Tisak ada kezaliman yang lebih zalim pada diri seseorang daripada seseorang itu berpaling dari ayat-ayat Allah Ta’ala.

Berpaling dari ayat Allah itulah tenyata merupakan puncak kezaliman pada diri seorang hamba. Tidak mau mengetahui identitas kebesaran, keagungan, kekuasaan Allah itu ternyata merupakan kezaliman mutlak…puncak kezaliman.

Diingatkan, dikasitau, digambarkan pada mereka ayat-ayat Allah tentang bagaimana keagunagn, kebesaran dan kekuasaan-Nya, mereka pura-pura tidak tahu.

Ada banyak ayat-ayat Allah, ada banyak teguran-teguran Allah, ada banyak jalan menuju kedekatkan diri pada Allah, tapi hati kita tertutup…terpalingkan…lepas… Kenapa sampai begitu??

Tunduklah…rendahkan hati…sadarlah akan kehambaan kita…tulus…ikhlas…agar hati kita mudah dimasuki nilai-nilai ketauhidan…menempel di jiwa kita…agar hati kita terdidik dengan nilai-nilai spritual keTuhanan itu…

Kalau hati kita tidak terdidik dengan nilai-nilai ketauhidan…kita sholat tapi tidak khusu’, kita ibadah tapi tidak khusu’, kita beramal tapi tidak ikhlas…kita hadir di majelis ilmu…tapi semua jadi mengambang….

Makanya…keyakinan pada Alla SWT itu adalah ukuran pertama dalam kita bergerak. Diluar daripada itu, akan terjadi kekaburan…kesamaran yang kita rasakan.

Allah mengecam orang-orang yang menjadikan Allah di luar ruang lingkup dia, dalam pekerjaannya…dalam amalnya…dalam ibadahnya…terutama orang-orang yang tidak mengenal Allah…kufur terhadap Allah…maksiat kepada Allah…menentang Allah…melawan Allah…
Semoga kita tidak tergolong di dalamnya.

Orang yang begitu…sudah terang-terangan menentang Allah…jelas dengan terang-terangan menunjukkan kekuasaannya terhadap Allah…jelas-jelas menunjukkan kesombongannya…keangkuhannya…di hadapan Allah ta’ala

Nahh…darimana kita tahu bahwa sesorang itu menunjukkan sikap menentang Allah?
Ketika Allah mengajaknya mengarah kepada 1 arah lewat ayat-ayatnya…dia katakan…”Wah! Buktikan dulu!
Atau dia katakan,”Saya punya cara sendiri. Ini tidak sesuai dengan langkah saya, ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip saya. Ini adalah berseberangan dengan kepentingan saya.”
Dan yang model-model begitu…ada di QS 18 : 57 :
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu ia berpaling dan melupakan apa yang dikerjakan oleh kedua tangannya?…”s

Dia ukur, dia lebih hebat dari Allah…dia ukur, dia lebih bijak dari Allah…
Antara dia dengan Allah…dipentingkannya maslahatnya dibanding maslahat yang didatangkan Allah.
Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

Manusia yang seperti itu…ya memang ada. Dia tidak mengatakan dia lebih hebat dari Allah, dia tidak mengatakan dia lebih bijak dari Allah….dia tidak akan bicara begitu…tapi dalam sikap…dalam tindakan…dalam cara berpikir…dalam meletakkan kebijakan…keputusan…dia menunjukkan bahwa dia lebih mengerti dibanding Allah.

Allah katakan A…dia katakan Z, Allah katakan Z…dia katakan A.

Banyak di dalam Al Qur’an yang berbicara tentang orang-orang seperti itu.
Orang itu, bukan tidak mengetahui bahwa kebenaran itu benar…kebaikan itu baik…kebathikan itu bathil…kejahatan itu jahat. Bukan karena itu.

Dia punya sebuah gambaran tentang kemashlahatannya sendiri seakan-akan Allah tidak lebih mengerti dibanding dia. Yang ada dalam otaknya…dia yang lebih paham tentang kemashlahatan dibanding Allah.

Banyak contohnya…yang sehari-hari saja…tentang pergaulan…tentang menutup aurat misalnya…
Ada saja sekelompok manusia yang berkata…”Itu sih untuk zaman Rosulullah…itu sihh kearab-araban…itu kuno…itu tidak sesuai dengan kondisi, maka ini sudah tidak berlaku…!!!”
Banyak sekali dali-dalil yang dibuatnya.
Bahkan dia tahu, kalau dia ambil jalan yang dia pilih dan dia tinggalkan pilihan Allah, resikonya besar. Tapi dia bilang.”Situasi dan kondisi pada saat ini lain.”
Maka terjadilah pergolakan…penyingkiran…
Dan banyak contoh lain yang bahkan lebih berat lagi

Apa yang membuat seseorang bisa begitu?
Keinginannya, tidak sama dengan keinginan Allah.

Terjadilah konflik.
Konflik dia dengan yang lain…konflik dia dengan agamanya…konflik dia dengan jiwanya sendiri…
Dia menentang fitrahnya sendiri.

Orang seperti itu, mengetahui kebenaran. Kita tidak membahas yang di luar agama kita…yang di luar itu kita maklumi…sudah di luar system…bukan wilayah kita
Tapi ini tentang orang yang sudah memilih islam sebagai agamanya…masih sholat, masih zakat…masih puasa…tapi tidak sadar diri kalau dia berbuat dosa.

Berpaling itu sudah satu sisi…yang kedua…dia tantang Allah…dia lawan Allah…dia masih tidak mau tahu kalau itu dosa. Bahkan bangga dengan memproklamirkan…ini kebijakan saya.

Ada juga yang memang tidak sampai menunjukkan dirinya yang paling benar…tapi tidak mau sadar sudah berbuat dosa.

Ada yang berpaling yang dia tidak menunjukkan bahwa dia menentang Allah, bahkan yang ditunjukkannya dia tidak menentang Allah, dia tidak mau tau bahwa dia salah, itu perbuatan sombong di hadapan Allah.

Apa yang dia lakukan?
Dia tidak mau tahu yang dilakukannya itu perbuatan jahat, malah menganggap dirinya berbuat baik. Dia menghina ayat-ayat Allah, mengecilkan ayat-ayat Al Qur’an, melakukan perbuatan-perbuatan buruk pada orang Islam, mendiskriminasikan orang-orang islam, dia katakan bahwa itu perbuatan baiknya…dia lupa pada apa yang dilakukan tangannya sendiri.

Kita punya “power” dari tangan kita…banyak dosa yang kita lakukan dari tangan kita…
Maka Allah beri isyarat pada kita…hati-hati dengan tangan kita!!
Tangan kita punya banyak resiko. Dan tangan kita kelak pun akan bersaksi ataas perbuatan-perbuatan kita.

Kekuasaan ada di tangan…pengarahan ada di tangan…penunjukan ada di tangan…harta ada di tangan…kita lupa itu…??? sudah berpaling, bahkan lupa!!

Akibat berpaling, menumpuklah dosa…tangan, kaki, kepala, badan, semua berbuat dosa.
Hati tertutup untuk paham…hati terkandas untuk paham. Hati tidak sanggup untuk sampai pada kebenaran yang Allah sampaikan…walaupun bukti kekuasaan Allah itu terlihat dengan mata kepalanya, tidak bisa dia menerimanya…hatinya karatan…gak nyambung dia dengan ayat-ayat Allah.

Karena dia melupakan Allah, dia lupa kalau hatinya lambat laun tertutup. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya …

Wallahu ‘alam bishaawab
Catatan Diana
Dari Kajian Tafsir (Habib Ahmad Al Munawar)
Di Mesjid Raya Bogor

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *