Connect with us

Batam

Bahaya Star Syndrom Dalam Pilkada

Published

on

0 0
Read Time:5 Minute, 29 Second

Oleh : Anton Permana. (Analis Sosial Politik dan Pertahanan Alumni Lemhannas PPRA RI 58 tahun 2018)

WAJAHBATAM.ID – 20/1/2020 |

Telah melalui puluhan event Pilkada memberikan arti tersendiri bagi penulis saat ini. Berbagai macam suka dan duka telah dilalui. Mulai dari menang gemilang dan ‘menikmati’ privilege khusus dari kepala daerah yang dimenangkan sudah dirasakan. Kalah dalam pilkada lalu disalah-salahkan juga sudah dirasakan. Menang lalu dilupakan atau dikhianati dgn berbagai alasan juga sudah dirasakan. Tapi meski berbagai spektrum kondisional hasil pertarungan Pilkada yang kita alami ada satu hal yang pasti akan selalu kita dapati dan lalui yaitu ; benturan dan gesekan. Baik itu dengan sesama internal tim, dengan lawan kandidat itu, maupun malah dengan kandidat itu sendiri.

Tak peduli awalnya adalah sebagai teman dekat, saudara, guru, sohib, kerabat, atau apa saja bentuk kekerabatannya. Namun ketika berbicara tentang kepentingan politik, jarang orang yang bisa memilah dan memilih. Norma dan etika sakral bahkan tuntunan agama untuk tidak memutus silaturahmipun diabaikan. Namun itulah wajah politik kita hari ini. Output dari demokrasi liberal. Menjadikan politik jadi hal yang utama. Politik menjadi tujuan bukan lagi sarana untuk perbaikan kehidupan bernegara yg lebih baik. Idealisme politik berbasis nilai, sering kalah oleh pragmatisme kepentingan kelompok dan sponsor. Semua menjadi dilematis. Mau idealis, tapi terkendala dalam hal pendanaan dan ‘tiket partai’. Akhirnya pintu pragmatis untuk berkolaborasi dengan para taipan, sponsor, dilalui. Konsekuensi dari kolaborasi ini tentu adalah mengadaikan idealisme dan siap menjadi ‘pekerja politik’ bagi para sponsor. Apakah semuanya begitu ? Jawabannya tentu tidak. Tapi untuk konteks hari ini cenderung demikian. Walaupun ada yg istiqomah menjadi kepala daerah idealis, jumlahnya sangat sedikit. Itupun di kooptasi media agar tidak muncul di publik.

Itu baru tentang pengalaman Pilkada 3 episode yang lalu. Nah bagaimana dengan pilkada ke depan ? Disini menariknya. Ada sebuah fenomena baru yang penulis lihat mulai menjadi ‘trend’ yang semakin menjangkiti psikologi anak bangsa hari ini. Apakah saat ini eranya sosial media mania yang menjadikan setiap orang haus akan aktualisasi diri dan eksistensi diri. Atau pola kehidupan hedonisme dan populis otoritarian politik hari ini yang mengakibatkan banyak anak bangsa begitu tertarik untuk menjadi kepala daerah. Apakah itu ? Penulis menyebutnya dengan star syndrom. Yaitu semacam penyakit psikologis berupa ‘halusinasi’ merasa dirinya adalah bintang, tokoh, publik figur, sedangkan faktanya jauh dari kenyataan.

Secara formil untuk persyaratan maju Pilkada boleh-boleh saja asalkan memenuhi syarat administratif sesuai regulasi pemilu dan pilkada. Tapi akan sangat berbeda kalau kita berbicara tentang azas kepatutan, kelayakan, dan kepantasan seseorang untuk maju menjadi calon pemimpin yang akan memimpin ratusan ribu bahkan jutaan manusia. Anehnya, meskipun sudah puluhan kepala daerah yg masuk bui, tapi animo para anak bangsa ini tetap tinggi. Apa penyebab secara teori ilmiah akademisnya ? Biarlah para ahli psikologi yang menjawabnya. Kita cukup membahas fenomena ringan tentang penyakit star syndrom ini. Apakah semua calon kepala daerah ini seperti itu ? Jawabannya tentu tidak. Untuk itulah penulis mencoba mengidentifikasi dan membedah mana calon kepala daerah yang memang layak untuk maju Pilkada, atau mana yang terkena penyakit halusinasi star syndrom tersebut. Berikut identifikasinya :

1. Ada tiga tipikal calon KaDa (kepala daerah) yg mesti kita pahami. Pertama, tipikal ideologis yang maju karena tuntutan ideologisnya untuk menjadi penguasa. Agar dapat menunjang kegiatan dan aktifitas ideologis yang dia yakini. Apakah itu berbasis agama, pemikiran, politik, maupun sekte atau tanpa agama sama sekali seperti komunisme. Kedua tipikal opportunis yg maju karena syahwat pribadi ingin mendapatkan kekuasaan, fasilitas negara, harta kekayaan, aktualisasi dan eksistensi, serta ingin terkenal semata. Ketiga, tipikal dunguis yg maju karena alasan tak jelas saja. Alias ikut trend semata. Kalau dalam bahasa minang disebut kandidat ‘gadang sarawa’ alias ‘pondoh aia pondoh dadak’ (kalau mau tahu artinya silahkan tanya sama orang Minang terdekat..😀😀). Nah untuk tipikal ketiga inilah yang paling rentan terkena star syndrom itu.

2. Kalaulah kandidat tersebut mempunyai track record serta kompetensi pengalaman dalam pemerintahan, organisasi, atau institusi TNI-Polri misalnya itu masih sangat wajar. Tapi ada pula saat ini kandidat, yang tak jelas kompetensinya, sepak terjang kepemimpinannya apalagi kalau berbicara pengetahuan tentang pemerintahan dan birokrasi, tapi optimis tak menentu maju Pilkada, ini yang jadi masalah.

Hanya bermodalkan design stiker di laman sosial media, pajang photo di baliho, lalu ada komentar dukungan “ Mantappp,… Lanjutkan… Ayo kita dukung… Keerreenn… “ di Group WA atau FaceBook, lalu menjadi pijakan untuk maju Pilkada tentu akan sangat naif sekali.

Kecendrungan ini sering terjadi kepada mereka yg haus akan panggung aktualisasi diri, yang mungkin saja secara psikologis tertekan dalam keluarga, lingkungannya, kebetulan punya modal lalu mencoba mengambil jalan pintas untuk merobah atau membalik keadaan. Akhirnya yang terjadi, kandidat seperti ini akan jadi sasaran empuk bancahan para pemain politik Pilkada di lapangan. Opok-opok sedikit, punya massa, sapat uang saku lalu jalan. Bagaimana nanti hasilnya urusan belakangan.

3. Ada juga penyakit star syndrom ini terjadi pada KaDa yang sudah dua kali menjabat mau naik kelas kejenjang yang lebih tinggi. Padahal boleh dikatakan tak ada prestasi monumental yang di perbuatnya selain koleksi penghargaan yang terbuat dari print-out kertas berbingkai hasil kerja ‘EO’ (Event Organizer) semata. Namun karena tak ada pilihan lain untuk menyambung kehidupannya ke depan, ya terpaksa berjibaku maju ke jenjang berikutnya.

Kandidat seperti ini juga harus rela menipu dirinya sendiri. Dalam hatinya mungkin sadar tak layak, namun karena tahu jadi kepala daerah itu enak sekali maka cukup pejamkan mata, rancang skenario sosialisasi, lakukan lobby sana sini tapi di permukaan seolah tak berminat alias jaim. Padahal baliho bertebaran dimana-mana. Tapi inilah wajah kebanyakan masyarakat kita. Yaitu masyarakat hipokrit. Penuh dengan kepura-puraan. Si kandidat pura-pura jadi bintang (publik figur), pendukungnya pura-pura mendukung, hasilnya pun akan pura-pura. Itulah konsekuensi politik pragmatis versi demokrasi liberal hari ini.

Banyak lagi kalau ingin kita bahas tuntas. Dan silahkan bagi pembaca untuk melanjutkannya dengan kurenah masing-masing. Tapi yang jelas penyakit star syndrom ini sangat berbahaya. Karena korbannya adalah rakyat atau juga bisa si kandidat itu sendiri. Uang habis, kalah Pilkada atau kalau menangpun nanti masuk penjara. Akibat tak tahu mekanisne organisasi asal embat saja.

Untuk itu penulis mengajak kita semua. Ada 270 Pilkada yang akan berlangsung di tahun 2020 ini. Dan ini adalah episode Pilkada yg ke empat kalinya pasca reformasi. Sudah saatnya kita tidak jadi hipokrit lagi. Kasihan rakyat. Kasihan masa depan anak cucu kita. Kita sering menyalahkan keadaan atau prilaku para pejabat yang memimpin negeri ini. Tapi kadang kadang kita pun adalah bahagian yg menjadi pendukung secara tak langsung kondisi ini. Yaitu berdiam diri ketika melihat kejanggalan atau kemungkaran yang terjadi.

Mari kita bersama menjaga diri kita, harga diri kita, untuk tidak jadi pelacur dalam politik pragmatis. Pilihlah para kandidat yg memang berdasarkan ideogis dan kapasitasnya. Bukan embel- embel lainnya. Agar lahir para pemimpin yang amanah dan berintegritas. InsyaAllah.

Jakarta, 19 Januari 2020.

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %

Batam

Siswa/i SMKN 004 Batam Kunjungi Kantor IPAL Batam Centre

Published

on

By

0 0
Read Time:29 Second

WAJAHBATAM.CO.IDFaslingbpbatam – Siswa/i SMKN 004 Batam melakukan kunjungan edukasi tentang pengelolaan Limbah Domestik di Kantor IPAL Batam Centre, Selasa (24/05/2022).

Kehadiran para Siswa/i ini dalam rangka mempelajari proses pengolahan Limbah Domestik, dan Siswa/i juga diberikan edukasi tentang pentingnya mencegah pencemaran Limbah Domestik di lingkungan sekitar agar lingkungan dimasa depan tetap terjaga dengan baik dan sehat.

Dalam kunjungan ini, para siswa disambut dan dilayani dengan ramah oleh para staff kantor IPAL, terlihat staff yang hadir dan memberi arahan diantaranya Jono, David dan Leo.

#bpbatam
#bpbatamsiapmelayani#ipalbatam#WWTP#smkbisa#smkbisasmkhebat#batam#indonesia

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %
Continue Reading

Batam

Pembangunan IPAL BP Batam Atasi Air Tanah Bersih Dari Limbah Air Tinja

Published

on

By

0 0
Read Time:1 Minute, 16 Second

Wajahbatam.id | Batam – Pembangunan Instalasi Pengolagan Air Limbah Domestik (IPAL) oleh BP Batam yang saat ini sudah rampung di 2 wilayah Bengkong dan Batam Centre bertujuan untuk menyelamatkan generasi Kota Batam dari pencemaran lingkungan khususnya air tanah yang sangat dibutuhkan untuk sumber kehidupan berkelanjutan.

Air limbah cair yang berasal dari hasil pembuangan manusia (tinja) merupakan limbah yang dapat dianggap berbahaya untuk kelestarian sumber air yang akan dimanfaatkan manusia dan hewan sebagai kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup jangka panjang.

Air yang tercemar tinja manusia bisa memicu 2 jenis penyakit, yakni water borne disease yang dipicu oleh air yang diminum seperti diare, kolera dan disentri. Sedangkan water washed disease yang dipicu oleh air untuk mandi dan mencuci pakaian , seperti terjadinya infeksi kulit.

Dampak air limbah tinja terhadap kehidupan biota dan tumbuhan juga sangat berpengaruh karena memiliki kandungan zat pencemar pada limbah tinja yang dapat menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air yang mengakibatkan kehidupan dalam air yang membutuhkan oksigen terganggu serta mengurangi perkembangannya, dannl lebih fatalnya lagi dapat mengakibatkan kematian karena adanya zat beracun dalam dapat tinja sebagai penyebab kerusakan pada tanaman dan tumbuhan air. Hal itu dapat mengakibatkan matinya bakteri, sehingga proses penjernihan air secara alamiah jadi terhambat.

“Dalam mengantisipasi hal tersebut, BP Batam telah berusaha semaksimalnya melakukan antisipasi untuk jangka panjang, hingga saat ini telah berhasil membangun 2 Instalasi Pengolahan Air Limbah dari 7 instalasi yang direncanakan untuk seluruh Kota Batam”, demikian keterangan Iyus Rusmana yang disampaikan kepada Wajah Batam saat dijumpai di seputaran Batam Centre. (Kamis 11/5/2022)

Selanjutnya: Dampak Limbah Tinja Pada Manusia

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %
Continue Reading

Batam

TPA Pembuangan Limbah Cair BP Batam Telah Beroperasi

Published

on

By

0 0
Read Time:1 Minute, 15 Second

wajahbatam.id | Batam – Saat ini, instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik (IPAL) di Batam telah dibangun di 2 lokasi Batam yaitu di daerah Bengkong Sadai dan Batam Centre sudah siap menampung limbah pembuangan. Sejak dibangun pertama kali tahun 2019 lalu, volume tinja yang telah masuk di dua wilayah sekitar 20.000 kubik per hari.

Pembangunan IPAL yang dibangun oleh BP Batam selain untuk mengolah tinja dan limbah cair yang timbul secara alami dari kegiatan alam dan proses kehidupan manusia, juga berfungsi untuk mengendalikan air hujan.

Call Center 0811 7700 036

Tempat pembuangan tinja dibangun untuk upaya melindungi kesehatan lingkungan telah memenuhi sanitasi dasar bagi setiap keluarga. Pembuangan kotoran yang baik harus dibuang ke tempat penampungan kotoran. Bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran itu tersimpan dalam satu tempat tertentu dan tidak menjadi sarang penyakit seperti penyakit saluran pencernaan (enteric) dan kontaminasi zat racun, penyakit infeksi dari virus seperti hepatitis infektiosa, dan penyakit infeksi cacing seperti schitosomiasis, ascariasis, dan ankilostosomiasis.

Pembuangan tinja manusia yang tidak dikelola secara baik akan berdampak buruk bagi manusia dan lingkungan dimana air limbah tinja dapat merusak lingkungan dan kesehatan bagi manusia. Air limbah tinja yang di buang ke dalam lingkungan (tanah dan badan air)secara tidak benar dapat menimbulkan masalah vektor. Lingkungan seperti selokan dilingkungan perumahan masyarakat akan menjadi tempat berkembang biak nya nyamuk, lalat, tikus dan binatang-binatang menjijikkan lainnya seperti kecoa, karena tempat-tempat tersebut merupakan tempat untuk mendapatkan sumber makanan.

Baca selanjutnya

 

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %
Continue Reading

Trending