Alokasi lahan Yayasan Pagaruyung Batam

Batam – Dalam sejarah urang Minang, ninik mamak adalah penjaga marwah kaum. Mereka berjalan di depan bukan dengan suara keras, melainkan dengan akal, adat, dan tanggung jawab . Setiap keputusan lahir dari musyawarah, setiap langkah terikat aturan, dan setiap amanah dijaga seumur hidup.

Dulu, organisasi kemasyarakatan Minang dibangun dengan struktur adat yang jelas. Ada Majelis Tinggi , ada Penasehat , ada Bundo Kanduang , ada generasi penerus. Semua berjalan dalam satu rimba adat: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah .

Namun hari ini, masyarakat mulai melihat sesuatu yang berbeda. Cara-cara yang muncul ke permukaan justru terkesan bar-bar, kasar, dan menekan , jauh dari watak ninik mamak yang mendidik. Musyawarah mengganti tekanan, adat mengganti klaim sepihak, dan suara masyarakat dijadikan alat legitimasi.

Dalam pepatah Minang dikatakan:
“Kok rantiang patah, batang indak ka lapuak. Kok adat ditinggakan, kaum ka salasa.”
Jika aturan adat ditinggalkan, yang rusak bukan hanya organisasi, namun persatuan kaum itu sendiri.

Ketua Yayasan Pagaruyung Batam, Irsyafwin , menegaskan bahwa persoalan hari ini bukan sekadar penyelamatan lahan, tetapi krisis arah dan marwah organisasi . Menurutnya, ketika sebuah paguyuban diubah tanpa musyawarah besar, tanpa aturan adat, dan tanpa kejelasan badan hukum, maka wajar jika organisasi tersebut “kehilangan hutan”.

Irsyafwin juga mengingatkan bahwa amanah sosial tidak boleh diperjuangkan dengan cara premanisme . Perjuangan yang benar tidak butuh intimidasi, tidak perlu terpecah belah, dan tidak perlu mengklaim diri paling mewakili Minang.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris YPB Suharsad, S.H., “Urang Minang itu kuat karena adat dan aturan. Kalau itu dihilangkan, lalu diganti dengan cara-cara yang menekan dan membingungkan masyarakat, maka yang tidak hanya merusak organisasi, tapi kepercayaan,” tegasnya.

“Nan bana indak perlu manyuruak, nan salah walaupun disaruakkan, akan tampak juo.”
Kebenaran tidak perlu diteriakkan, dan kesalahan tidak bisa disembunyikan selamanya, seling Suharsad, S.H.

Episode ini mengajak masyarakat Minang Batam untuk kembali ke akar: akal sehat, adat, dan marwah . Jangan biarkan nama besar Minang dijalankan dengan cara-cara yang justru bertentangan dengan nilai yang diwariskan oleh orang-orang tua kita sejak dahulu kala. (Shd)

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *