Ilustrasi

Oleh: Suharsad, S.H.

(Sekret. YPB, Pendiri Gema Minang, ex. Sekjend IKSB Batam)

Antara Identitas dan Keserakahan

Di kota Batam yang ramai, di antara gemuruh mesin kapal dan kilauan gedung-gedung tinggi, berdiri kokoh sebuah paguyuban bernama IKSB Batam. Sejak 1984, organisasi ini menjadi rumah bagi masyarakat Minangkabau perantauan, menjaga adat, dan merajut silaturahmi di tanah rantau. Selama hampir empat dekade, melalui pasang surut kepengurusan, IKSB Batam tak pernah tercerai-berai. Hingga pada Musyawarah Besar (Mubes) 2023, sebuah keputusan aklamasi mengangkat seorang mantan polisi, Marion, sebagai ketua. Suara bulat itu diiringi harapan besar dan amanah yang jelas: menyusun kepengurusan baru dengan melibatkan seluruh IKA (Ikatan Keluarga) Minang yang ada, sesuai AD/ART yang menjadi fondasi.

Namun, harapan itu mulai retak. Amanah Mubes seolah menguap. Alih-alih merangkul seluruh elemen keluarga Minang, Marion bergerak diam-diam. Dengan cepat dan tanpa konsultasi publik, ia membentuk struktur kepengurusan yang independen. Masyarakat Minang Batam baru tersentak ketika sebuah nama baru berkibar: Perkumpulan Ikatan Keluarga Sumatera Barat Batam (PIKSBB). Organisasi baru ini lahir dari rahim kepengurusan yang dibentuk Marion, seolah-olah merupakan metamorfosis resmi dari IKSB Batam yang lama. Memanfaatkan legalitas IKSB Batam untuk menyusun organisasi baru yang akan mengambil alih harato tinggi urang Minang Batam.

Majelis Tinggi saat itu, Arwin Pribadi—seorang purnawirawan polisi lain—langsung menolak. Protesnya keras. Terjadi silang pendapat yang panas antara MT Arwin dan Marion, saling menuding, saling menyalahkan. Awalnya, banyak yang mengira ini adalah konflik nyata. Namun, lambat laun, muncul pertanyaan yang menggelitik di benak para pengamat: Apakah ini semua hanya sandiwara? Keraguan itu semakin menjadi ketika kemudian, di kemudian hari, mereka terlihat bersama-sama mengibarkan bendera PIKSBB. Perseteruan yang dulu keras, tiba-tiba sirna, meninggalkan bau muslihat yang menyengat.

Sementara narasi organisasi bergulir, sebuah konflik lain yang lebih nyata dan berdarah-darah muncul di ranah aset. Yayasan Pagaruyung Batam, sebuah yayasan sosial Minang, telah mendapatkan alokasi lahan dari BP Batam setelah melalui proses panjang. Lahan itu adalah impian, sebuah tempat untuk membangun pusat kebudayaan dan pendidikan, aset berharga bagi generasi Minang di Batam. Rencana pembangunan pun disusun dengan matang.

Namun, mimpi itu hampir menjadi kenyataan ketika, dalam waktu yang sangat singkat, BP Batam secara tiba-tiba mencabut alokasi lahan tersebut. Kejutan itu disusul kejutan lain: lahan yang sama dialihkan kepada PIKSBB. Yang lebih mencurigakan, dalam setiap proses perencanaan pembangunan di lahan itu sejak awal, nama Marion selalu muncul. Ia bahkan terlibat aktif hingga ke level teknis, merancang struktur bangunan. Seolah-olah ia membantu, padahal di balik layar, ia sedang menyiapkan panggung untuk mengambil alih dengan memulai permainan dari tidak bersedia hadir dalam lima kali undangan untuk progres pembangunan Rumah Gadang yang diimpikan masyarakat Minang di Kota Batam.

Polanya menjadi jelas: ada sebuah itikad untuk menggagalkan pembangunan aset Minang yang digalang oleh organisasi lain, sambil secara bersamaan PIKSBB dengan membawa bendera perjuangan yang sama mengklaim diri sebagai pihak yang paling berhak dan paling gigih memperjuangkan aset komunitas. Sebuah ironi yang pahit. Jika niatnya tulus, seharusnya dukungan diberikan agar pembangunan Yayasan Pagaruyung cepat terlaksana untuk kemaslahatan bersama. Bukan malah mengambil alih dengan cara yang gelap.

Konflik pun merambat ke meja hijau. Yayasan Pagaruyung menggugat menggugat BP Batam, bukan organisasi bayang-bayang itu. Dan anehnya, sepanjang proses hukum yang berliku, PIKSBB dan Marion tak pernah berani menyatakan dengan tegas bahwa lahan sengketa itu adalah milik resmi PIKSBB. Mereka justru terus-menerus “memvalidasi diri” sebagai IKSB Batam, diduga bersembunyi dibalik organisasi lama yang telah puluhan tahun berakar di hati masyarakat. Organisasi yang telah menjadi nyawa masyarakat Minang di Batam. Strateginya cerdik sekaligus licik: menggunakan martabat, sejarah, dan kepercayaan publik yang melekat pada nama IKSB Batam untuk mengelabui dan menggerakkan massa, seolah perjuangan mereka adalah perjuangan organisasi induk yang sah, sementara Yayasan Pagaruyung Batam tidak pernah bersengketa dengan IKSB Kota Batam.

Perjalanan hukum berliku. PIKSBB sempat menang di tingkat Mahkamah Agung. Kemenangan itu dianggap final. Namun, Yayasan Pagaruyung tidak menyerah. Namun mereka kembali berjuang agar dapat mengajukan peninjauan kembali, dengan membongkar kesalahan administratif yang fundamental: yaitu penggunaan martabat palsu yang dilakukan Marion, dalam proses hukum sebelumnya, diduga kuat mengaku-aku sebagai Ketua Yayasan Pagaruyung sebuah identitas yang tidak sah untuk memenangkan posisi. Dalam gugatan sederhana di Pengadilan Negeri Batam, kebohongan ini terbongkar. Yayasan Pagaruyung memenangkan gugatan tersebut.

Kekalahan di tingkat bawah ini membuat PIKSBB panik. Kembali, taktik lama dikeluarkan. Bendera dengan kembali mengibarkan bendera IKSB Batam, massa dikumpulkan, demo digelar di depan pengadilan. Narasi yang dibangun bukan lagi tentang sengketa lahan dan itikad tidak jujur individu, tetapi di-“framing” sebagai “perkara organisasi”, seolah-olah ini adalah perseteruan antara dua institusi, bukan keserakahan pribadi yang bersembunyi di balik institusi. Mereka berteriak membela “kedaulatan organisasi”, sambil menghindari pertanyaan mendasar: Siapakah sebenarnya PIKSBB? Dan mengapa bendera mereka sendiri tak pernah berkibar dalam aksi-aksi ini?

Masyarakat Minang Batam, yang terkenal dengan semangat gotong royong dan kekerabatan yang kuat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, kini berada di persimpangan. Mereka ditunggangi. Dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang membawa bendera lama yang mereka cintai, untuk memperjuangkan kepentingan kelompok baru yang asing. Sebuah pertanyaan besar menggantung: Siapakah sebenarnya para pengurus inti PIKSBB itu? Apakah wajah-wajah itu pernah terlihat dalam kiprah membangun keluarga Minang Batam selama puluhan tahun ini? Ataukah mereka justru muncul dari kegelapan, tepat di momen ketika ada aset berharga sebidang tanah yang bisa diperebutkan?

Mengapa di saat-saat seperti ini, mereka tiba-tiba menjadi pihak yang paling “disakiti” dan paling lantang bersuara, sementara perjuangan sebenarnya membangun aset bersama secara transparan justru dihalangi?

Kisah ini adalah cermin bagi seluruh masyarakat Minang di Batam. Sebuah seruan untuk kembali melihat ke belakang, mempelajari sejarah perjalanan IKSB Batam yang utuh sejak 1984. Untuk mempertanyakan setiap perubahan yang berbau rekayasa. Untuk tidak mudah terbawa emosi oleh bendera dan teriakan, tetapi melihat niat dan track record.

Karena sesungguhnya, yang diperjuangkan Yayasan bukan hanya sebidang tanah. Tetapi sebuah identitas, kepercayaan, dan masa depan anak kemenakan orang Minang di perantauan kemudian hari. Jangan sampai, karena kelalaian dan kenaifan, rumah/wadah kebanggaan bersama yang telah dibangun dengan susah payah puluhan tahun, diremas dan dihancurkan oleh bayang-bayang yang hanya datang untuk memetik buahnya saja.

Adat di rantau, haruslah lebih kuat berpegang pada kebenaran. Karena di tanah orang, nama baik adalah harta yang paling berharga.

Sumber: Davisco (Pembina), Irsyafwin (Ketua YPB), Riswandi Ismail, Ir. Junaidi, Dedy Suryadi, S.H.M.H.,

About Author

One thought on “Bayang-Bayang di Balik Bendera IKSB: Kisah Perebutan Identitas dan Tanah di Batam”

Tinggalkan Balasan ke Wajah Batam Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *