Batam – Kebijakan pengelolaan air di Batam kembali menuai sorotan. Di satu sisi, upaya meningkatkan kapasitas waduk melalui teknologi hujan buatan terus digencarkan. Namun di sisi lain, kawasan hutan resapan—yang berfungsi vital menjaga pasokan air baku—justru dibuka untuk proyek komersial. Kondisi kontradiktif ini memunculkan pertanyaan publik mengenai konsistensi penerapan kebijakan sumber daya air di Batam.

1. Upaya Hujan Buatan Ditingkatkan

  • Dilakukan untuk menambah volume air di waduk-waduk utama Batam.
  • Menjadi langkah darurat menghadapi potensi krisis air baku.

2. Hutan Resapan Justru Dibuka

  • Kawasan yang mestinya dilindungi dialihfungsikan untuk pembangunan komersial.
  • Mengancam fungsi ekologis sebagai penyerapan dan penyimpan air.

3. Kebijakan Dinilai Kontradiktif

  • Program penyediaan air berjalan berlawanan dengan perizinan pembukaan lahan.
  • Masyarakat mempertanyakan arah kebijakan Air Batam Hilir dan BP Batam.

4. Risiko Jangka Panjang

  • Potensi berkurangnya kapasitas resapan air.
  • Ancaman kekeringan lebih besar meski hujan buatan terus dilakukan.

5. Desakan Transparansi & Sinkronisasi Kebijakan

  • Publik menuntut evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan ruang dan sumber daya air.
  • Perlunya komitmen menjaga kawasan hijau demi keberlanjutan pasokan air Batam.

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *