Aphelion

WajahBatam.id – Batam | Fenomena astronomi tahunan Aphelion kembali terjadi pada 3 Juli 2025, tepatnya pukul 15.54 WIB, di mana posisi Bumi berada di titik terjauh dari Matahari dalam orbit elipsnya. Momen ini terjadi sekitar dua minggu setelah titik balik musim panas di belahan Bumi utara.

Menurut keterangan dari para ahli astronomi, saat aphelion, jarak Bumi dengan Matahari mencapai sekitar 152 juta kilometer, atau lebih jauh ±5 juta kilometer dibandingkan saat perihelion (terdekat) yang terjadi setiap awal Januari.

Aphelion bukanlah penyebab musim dingin atau perubahan cuaca ekstrem. Musim terjadi karena kemiringan sumbu Bumi, bukan jarak dari Matahari,” ujar peneliti astronomi dari LAPAN, dikutip dari berbagai sumber.

Mengapa Ini Penting?

Meskipun perbedaan jarak Bumi–Matahari hanya sekitar 3 persen, dampaknya terasa dalam hal kecil seperti:

Penurunan intensitas sinar matahari sekitar 6–7 persen, yang bisa mempengaruhi cuaca makro secara tidak langsung.

Perlambatan kecepatan orbit Bumi (hukum Kepler), menyebabkan musim panas di belahan Bumi utara sedikit lebih panjang dibanding musim dingin.

Namun demikian, publik diingatkan agar tidak terpengaruh informasi hoaks yang menyebut aphelion sebagai pemicu cuaca ekstrem atau gempa bumi. “Itu tidak ilmiah dan tidak terbukti secara data,” tegas ahli iklim dari BMKG.

Bagaimana Cara Menyikapinya?

Fenomena ini tidak tampak secara visual di langit seperti gerhana atau komet, namun bisa dijadikan momen edukatif untuk mengenalkan ilmu astronomi kepada anak-anak dan generasi muda.

Kesadaran astronomi penting agar masyarakat paham bahwa bumi bergerak dalam siklus yang presisi. Dari sana kita belajar tentang waktu, musim, dan kehidupan,” jelas Dosen Fisika Universitas Riau Kepulauan, W. Indra.

Fakta Singkat Aphelion:

Tanggal: 3 Juli 2025
Jarak Bumi–Matahari: ±152 juta kilometer
Dampak: Tidak menyebabkan musim dingin

Fenomena: Terjadi setiap tahun

Visual: Tidak terlihat langsung, tapi bisa dihitung oleh astronom

Aphelion adalah bagian dari keteraturan alam semesta yang luar biasa. Ia mengingatkan kita bahwa kehidupan di Bumi terus berputar dalam sistem yang teratur dan dapat diprediksi—sebuah refleksi keagungan Sang Pencipta.

Tim Redaksi Wajah Batam
Sumber: BMKG, LAPAN, Timeanddate.com, EarthSky.org, Farmers Almanac

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *